Selasa, 31 Mei 2011

Kolase, Pernik Kehidupan



Judul Buku : KOLASE, PERNIK KEHIDUPAN
Pengarang : Sebelas penulis perempuan
Penerbit : Rumah Pena Publishing
(Cetakan 1, Mei 2010)
Tebal : 133 halaman
Harga : Rp 35.000,- ( Mau diskon ? hubungi aq di Inbox ya ! )

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN MANUSIA
Hidup
ini seperti Kolase. Di mana banyak potret peristiwa masa lalu yang
disusun acak tapi menarik. Semua kejadian dalam hidup setiap manusianya
pada dasarnya adalah pernak-pernik kehidupan.
Inilah yang mengawali
ide sehingga kumpulan cerpen yang terdiri dari sebelas cerita yang
ditulis oleh sebelas penulis yang berbeda di setiap cerita, diberi
judul : KOLASE, PERNIK KEHIDUPAN. Penulis-penulis yang tergabung dalam
Kumpulan Cerpen ini adalah penulis-penulis yang telah banyak
menghasilkan karya tulisan, ada yang telah menulis banyak novel,
menulis skenario film televisi, maupun menulis cerita-cerita pendek.

Benang
merah semua cerita yang terangkum dalam kolase adalah : CINTA, cinta di
sini bukan hanya kisah cinta antara sepasang kekasih, tapi cinta yang
lebih luas, universal. Ada kisah cinta seorang bayi yang masih di dalam
kandungan kepada ibu yang mengandungnya, cerita ini terdapat dalam
cerpen berjudul BUAH HATI SEPTI karya Arumi.

Cinta terpendam
seorang cacat kepada tunangan saudara kembarnya yang mengulik
keingintahuan dapat disimak dalam cerpen berjudul : CINTA UNTUK DAMAI
buah karya Achi TM. Ada juga cerita yang berkisah tentang cinta seorang
kakak kepada adiknya yang autis, cerita ini berjudul : CINTA DUA MITA,
ditulis dengan apik oleh Evie.

Suasana pantai yang romantis
dipilih sebagai setting kisah yang juga romantis tentang cinta yang
dipendam selama delapan tahun dalam cerpen berjudul DELAPAN TAHUN karya
Tochterty.

Kisah tentang perselingkuhan mungkin sudah sering
kita dengar, tapi dalam cerpen berjudul DILEMA HATI RAHADI karya Riri
Ansar, akhir ceritanya sungguh mengejutkan dan sayang bila dilewatkan.

Ada
lagi kisah unik yang terjadi di California, tentang seorang remaja
blasteran Indonesia-Amerika yang diam-diam jatuh cinta pada teman
ibunya yang lebih pantas menjadi pamannya. Cerita menarik ini dapat
dinikmati dalam cerpen berjudul THE PROMISE I HAVE MADE karya Rachma
MJ.

Cerpen berjul RIVAPUJI karya Widuri, seolah ingin
menjabarkan, bahwa cinta kadang termaknai dengan aneh, hingga tak jelas
apakah itu bisa disebut cinta atau hanya obsesi seorang ikhwan
psikopat.

Pun cinta bukan hanya bisa terjadi antara seorang
pria dan seorang wanita. Cinta dapat menelusup diam-diam dalam hati
seorang pria kepada sahabat prianya, cerita ini dapat disimak dalam
cerpen berjudul : OH MY GOD! karya Yuni Fitriyani.

Di antara
beragam kisah cinta, tak luput juga cerita tentang seorang remaja SMU
yang berjuang mempertahankan prinsipnya yang anti pacaran sebagai
bentuk nyata dari usahanya menjalankan perintah agama dengan
sebaik-baiknya. Kisah ini terjalin dalam cerpen berjudul UJIAN PERTAMA
UNTUK JILBAB ZAHRA karya Putri Zakiyyah.

Bahkan uneg-uneg
seorang ibu muda yang memutuskan berhenti berkarir agar dapat lebih
fokus merawat balitanya, dapat menjadi cerita menarik dengan metode
penulisan baru, kisah ini ada dalam cerpen berjudul METAMORFOSIS karya
Lulu Elmaknun.

Dan kisah cinta masa lalu bisa terungkap hanya
dari pertemuan kebetulan di sebuah perpustakaan. Kisah menarik dan
membuat penasaran ini ada dalam cerpen berjudul SUATU SIANG DI LIBRARY
karya Ifa Avianty.

Selasa, 11 Januari 2011

KU MINTA KAU MENDUA


Ini emang ide gila yang pernah kuungkapkan seumur hidupku. Aku menyuruh Dimas cowok tercintaku untuk mencari cewek lain. Semua kulakukan bukan karena aku tidak cinta lagi padanya tapi beasiswa yang kudapat dari kantor papa untuk melanjutkan sekolah ke Aussie mengharuskanku untuk berpisah sementara darinya Menurutku lebih baik Dimas mencari pacar baru dengan sepengetahuanku daripada aku sudah setia padanya tapi saat kembali aku melihatnya sudah dengan cewek lain.
“ Kamu tuh udah gak waras ya, Nad ?” ujar Dimas marah saat kuungkapkan ide gila itu.
“ Aku cuma gak siap aja kalo nanti saat kembali harus lihat kamu udah sama cewek lain “ ujarku pelan.
“ Kamu pergi khan cuma setahun, lagipula kamu pikir aku bukan cowok setia “ tukasnya masih dengan nada tinggi.
“ Kata orang hubungan jarak jauh itu riskan banget ama perselingkuhan.” lanjutku dengan nada gamang.
“ Kamu kali yang bakalan selingkuh bukan aku “ rutuknya sambil merengut.
Aku cemberut. Entah kenapa aku ngotot ingin sekali melihatnya dekat dengan cewek lain sebelum pergi. Aku tidak ingin selama disana diliputi ketakutan apakah Dimas selingkuh atau tidak. Jadi lebih baik perasaan sakit itu dirasakan sekarang daripada nanti.
“ Nadia, aku tahu Australia itu jauh dan belum tentu dalam setahun itu aku bisa jenguk kamu, tapi sekarang khan jaman udah canggih ada telepon atau internet dan kita bisa berhubungan kapan aja “ urai Dimas panjang lebar.
“ Tapi itu khan terbatas” potongku.
“ Sekarang aja gak setiap hari kita jalan bareng meski satu sekolah, kita sama – sama punya teman dan hobi masing – masing jadi gak ada bedanya .” jelasnya seolah membaca perasaanku.
Aku terdiam lama. Dimas meraih tanganku.
“ Kamu cuma lagi khawatir kehilangan aku karena kita bakalan terpisah tapi seiring dengan waktu nanti juga terbiasa” bujuknya.
“ Iya, terbiasa tanpa aku !” sungutku.
“ Tuuh khan …. Kamu jangan parno gitu dong ! pacar kamu dukung untuk maju malah disuruh yang aneh – aneh “ ujarnya sambil mengelus rambutku.
“ Kamu pacaran sama Rani aja, ya Dim ! dia sahabatku yang paling baik kok !” usulku dengan perasaan tak berdosa.
Dimas langsung melotot dan berdiri lalu meninggalkanku tanpa bicara apapun. Ia benar – benar marah atas usulan gilaku. Tidak diperdulikannya suaraku yang berteriak memanggil namanya.
***
Kemarahan Dimas terus berlanjut. Sudah tiga hari kami tidak saling tegur sapa. Aku main ke kelasnya dicuekin, telepon gak diangkat dan sms gak dibalas. Aku tahu aku salah tapi aku ingin ia mengerti apa yang kurasakan. Aku yakin sekali kami sama – sama tidak bisa mempunyai hubungan jarak jauh. Aku cuma ingin saat kutinggalkan ia sudah bersama dengan cewek lain yang menurutku pantas dijadikan pacarnya. Setidaknya walau aku tidak bersama dengannya aku masih bisa mendengar dan melihat dia bahagia dengan orang yang aku kenal.
“ Lo emang pacar yang aneh, Nad ! punya cowok sebaik Dimas malah disuruh pacaran ama cewek lain, pantas aja kalo dia marah “ omel Ika teman sebangkuku.
“ Trus sekarang harus gimana ? gue udah kirim sms minta maaf tapi gak ditanggapi dia malah makin cuek ama gue “ keluhku.
“ Rasain lo ! sekarang gue rasa kalian bubar beneran.”
Ada yang sakit diujung hatiku mendengar kalimat Ika. Apa mungkin Dimas semarah itu dan ujungnya kami putus ?. Duuh aku belum siap mendengar kata putus darinya. Apalagi semuanya gara – gara keinginanku. Waktu keberangkatanku tinggal dua minggu lagi. Haruskah dalam dua minggu ini aku kehilangan dirinya ? bukan ini yang kuharapkan. Aku tidak ingin pisah darinya dalam keadaan bermusuhan. Aku ingin saat pergi ia sudah bersama seseorang yang kuanggap bisa menjaganya seperti saat aku bersamanya.
Aku sedang membereskan buku – buku untuk dibawa saat Rani muncul di pintu kamar.
“ Tahu aja lo kalo gue lagi butuh bantuan” ledekku.
“ Gue tahu pasti dua minggu ini lo bakalan sibuk makanya gue kesini “ ujarnya seraya mulai membantuku memilah buku.
” Gimana kabar Dimas ?” tanya Rani pelan.
” Gak tahu, udah beberapa hari ini gue gak ketemu dia ”
” Kalian sedang bertengkar ?”
” Enggak ! Cuma akhir – akhir ini gue sibuk banget ngurus kepindahan gue, jadinya rada cuek ke dia ” ujarku bohong.
“ Hm, sebenernya ada yang mau gue omongin “ ujarnya serius.
“ Waduh ngomong lo jangan sok serius gitu dong !’ candaku sambil mencubit pipinya.
“ Nad, Dimas minta gue jadi pacarnya “ ujarnya pelan tanpa menatap wajahku.
Sontak buku yang ku pegang jatuh kebawah. Aku tak percaya atas apa yang diucapkan Rani barusan. Tempo hari aku memang menyuruh Dimas untuk menjadikan sahabatku ini pacar barunya. Aku sama sekali tak menyangka jika keinginanku itu sekarang dibuktikan.
“ Nad, gue minta maaf atas ucapan gue barusan, gue juga masih bingung kenapa Tiba – tiba Dimas minta gue jadi pacarnya, memangnya kalian sudah putus ?” tanyanya melihatku masih bengong.
“ Gue …. “ aku bingung harus mulai darimana. Ini semua ideku dan Rani tidak boleh tahu jika Dimas ingin menjadikannya pacar karena keinginanku.
“ Hm, iya kami udah putus ! gue takut gak bisa setia selama di Aussie jadi lebih baik kita pisah “ terangku bohong.
“ Tapi kalian putus baik – baik khan ? gue gak mau orang lain menyangka gue merebut Dimas dari lo ?” tanyanya lagi.
“ Emangnya lo mau jadi pacarnya dia ?” tanyaku mulai panik.
Rani tersipu malu seraya mencubit pipiku.
“ Siapa sih yang gak mau punya pacar seganteng dan sebaik Dimas, gue aja suka iri lihat kalian berdua “ ujarnya sambil tertawa.
Saat ini rasanya aku sedang tidak menapak bumi. Ya Tuhan inikah rasanya patah hati. Ada yang hancur lebur di lubuk hatiku yang paling dalam. Inikah balasan yang kuterima akibat ulahku. Aku sama sekali tidak menghargai cinta Dimas hingga akhirnya ia memilih pergi dariku dan menuruti semua keinginanku. Ku tahan nafas menahan detak jantung yang bertubi – tubi. Di hadapanku terlihat wajah Rani yang masih merona bahagia.
***
Semangatku untuk melanjutkan sekolah keluar negeri rasanya sudah lenyap. Aku tidak ingin kehilangan Dimas. Aku tidak ingin kehilangan cintanya. Ide gilaku tempo hari ternyata kini membunuhku. Sekarang apa yang harus kulakukan? semuanya berjalan sesuai keinginanku. Harusnya aku senang Dimas punya pacar baru yang sudah ku kenal baik hingga aku tak perlu cemas. Tapi kenapa hatiku terasa berdarah ? kenapa hatiku rasanya makin hampa ?.
“ Udahlah gak usah ditangisin, semuanya udah terjadi dan sesuai keinginan lo khan ? “ ujar Tika melihatku berurai air mata.
“ Sakit banget rasanya, Tik !” isakku.
“ Mudah – mudahan di aussi lo ketemu cowok yang jauh lebih baik dari Dimas, apalagi kalo dapat cowok bule “ ujarnya berusaha menghibur.
Aku tersenyum tipis mengingat kini Rani sering cerita soal hubungannya dengan Dimas. Dimas memang cowok yang perhatian pada pacarnya jadi wajar saja jika Rani merasa tersanjung. Ia memanjakan Rani dengan hadiah kecil, jalan bareng ke tempat yang dulu biasa kami datangi dan mau mengantar Rani kemana saja Sebenarnya aku tidak tahan mendengarnya tapi apa boleh buat semuanya terjadi atas ijinku. Sikap Dimas padaku lebih menyakitkan, ia seolah tidak pernah mengenalku. Jika kami bertemu di sekolah tak sekalipun ia memperlihatkan sikap ramah. Aku hanya bisa menahan nafas dan menerima resiko atas apa yang telah kuperbuat

***
Ini malam terakhir aku berada di Jakarta. Besok siang aku sudah harus berangkat. Sampai detik ini Dimas tidak menghubungiku meski untuk mengucapkan selamat tinggal. Kupandangi foto kami berdua untuk yang terakhir kali sebelum kumasukan ke dalam laci meja. Semuanya sudah selesai sesuai apa yang kumau. Besok aku harus memulai hari baruku tanpa Dimas.
“ Nad, ada Rani dan Dimas di depan “ teriak mama dari luar kamar.
Duuh, mau apa mereka kemari. Aku benar – benar tidak sanggup melihat mereka berdua. Aku yakin mereka ingin mengucapkan selamat tinggal sekaligus berterima kasih atas kebaikanku menerima mereka sebagai pasangan.
“ Hai, Nad ! masih beberes ya “ sapa Rani ramah.
“ Iya, persiapan buat besok “ jawabku pelan.
Ada yang membuncah di dadaku melihat Dimas duduk di samping Rani. Hatiku semakin sakit. Lebih baik aku pingsan dan tidak bangun lagi daripada harus melihat mereka. Kepalaku tiba – tiba pusing bayangan Dimas dan Rani mulai mengabur. Ada apa ini kenapa semuanya jadi buram ?
” Nad lo gak apa – apa ?” tanya Rani cemas sambil memegang tanganku
Aku menggeleng lemah. Ku pijit kepalaku yang makin berdenyut sakit.
” Kecapean kali !” ujar Dimas pelan.
Aku menatapnya lama. Apakah aku benar – benar kehilangan dirinya ? apakah cinta yang selama ini ada diantara kami begitu mudah ia lupakan ? apakah kenangan yang terjalin dan terajut begitu indah sudah dikuburnya ? apakah tidak ada setitikpun rasa kehilangan aku ? ingin rasanya kuteriakkan semua kalimat itu padanya. Pancaran mata itu benar – benar sudah bukan untukku lagi. Ku tarik nafas dalam dan menutup mata seraya berharap Tuhan memberikan kekuatan, tapi saat kubuka mataku aku tak melihat apa – apa. Kenapa semua menjadi gelap ?
Entah berapa lama aku tertidur. Ketika tersadar aku sudah berada di atas tempat tidurku.
“ Kamu pingsan hampir satu jam,Nad ! kamu kenapa ?” tanya mama cemas.
Aku menggeleng lemah.
“ Kalau kamu gak siap untuk pergi besok , bisa ditunda kok “ tambah papa.
Aku menggelengkan kepala seraya meyakinkan mereka bahwa aku tidak apa – apa cuma kecapean karena sibuk mengurus segala keperluanku. Mereka bilang jika Rani dan Dimas pamit pulang karena takut mengganggu istirahatku.
***
Bandara Soekarno Hatta ramai dengan penumpang yang hilir mudik. Kulirik jam tangan setengah jam lagi aku berangkat. Aku memang pecundang sejati yang tidak mau berjuang untuk mempertahankan cinta. Seandainya aku tidak membuat ide gila itu mungkin saat ini Dimas ada disisiku untuk mengantar. Ah sudahlah, tidak ada yang perlu disesali setidaknya aku masih tetap bisa mendengar kabar tentangnya dari Rani. setidaknya aku tahu keadaan dirinya akan selalu baik – baik saja karena aku percaya Rani tidak akan menyakiti hatinya. Tak ada satupun benda yang mengingatkanku akan Dimas kubawa. Aku ingin memulai hari baruku tanpa Dimas. Biarlah Dimas menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah kulupakan.
” Udah siap ?” tanya Papa menyadarkan lamunanku.
Aku mengangguk lalu berdiri dan mengambil tasku.
” Nadya ........ ! ” suara teriakan seseorang dari belakang menahan langkahku. Terlihat Ika, Rani, Sisil, Virni dan teman – teman sekelasku yang lain. Aku juga melihat bayangan Dimas diantara mereka.
” Aduhh ... kalian gimana sih ! gue khan udah udah bilang jangan dianter ” seruku karena jauh – jauh hari aku berpesan untuk tidak mengantarku, karena akan membuatku sedih.
” Siapa yang mu nganter lo ? kita kesini cuma pengen main trus foto – foto buat di pesbuk ” jawab Sisil centil.
” Iya, trus ngeliat lo kayak mau pergi gitu ! ya udah kita samperin ” tambah Ika.
Aku menggeleng melihat mereka berdalih memberikan alasan. Ku lirik sekilas Rani yang tampak asyik ngobrol dengan Dimas. Aku menghela nafas panjang melihatnya.
” Kalo ada bule kece langsung paketin ke gue ya !” seru Ika setelah melihat ada kabut yang bermain dimataku.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
” Ayo kita antar Nadya sekarang ” seru Ivan cowok paling rame dikelasku setelah mendengar pengumuman dari operator bandara.
Aku memeluk temen – temanku satu demi satu. Keharuanku tidak terbendung lagi, meski aku hanya pergi selama setahun tapi tetap saja aku merasa kehilangan dengan semua canda tawa meraka.
” Jaga diri lo baik – baik ya, kalo pengen curhat tinggal online .... online ” seru Rani ceria.
Aku tertawa mendengar candanya.
” Gue titip Dimas ya !”ujarku pelan. Akhirnya aku tak tahan dengan perasaanku sendiri. Meski untuk yang terakhir kalinya aku tetap tidak bisa membhongi perasaaanku.
Rani tertawa lalu memelukku kembali.
” Dimas gak akan kemana – mana Nad, Cintanya masih buat lo ” bisiknya pelan.
Kulepas pelukannya lalu menatap Rani heran. Dimas menghampiriku lalu memberikan bngkusan kado berwarna pink. Aku menatapnya tidak mengerti.
” Kalo kamu kangen sama aku peluk boneka ini aja ya ” ujarnya sambil tersenyum lalu mengacak rambutku. Aku masih terpana menatapnya.
” Lo gak bisa bohongin perasaan lo sama gue, Nad ! kemarin itu Dimas lakuin cuma pengen tahu perasaan lo sesungguhnya ” terang Rani.
” Jadi ?” tanyaku masih tak mengerti.
Dimas memelukku disertai suara riuh anak – anak.
” Ternyata cinta kamu masih untukku, aku akan disini menunggu kamu pulang” bisik Dimas lembut di teligaku.
Ada yang luruh di hatiku dan itu bahagia. Ku tatap wajahnya mencari kesungguhan disana. Dimas menggangguk pasti lalu mengacak kembali rambutku. Kini air mataku benar benar jatuh. Ternyata membohongi perasaan sendiri sangat tidak enak rasanya . Biarlah waktu yang akan menguji perjalanan cintaku karena aku yakin saat jarak memisahkan aku dan Dimas bisa melewati itu semua.

***

Dimuat di Majalah TEEN 2010

Selasa, 21 Desember 2010

Give Up

sometimes i wanna give up
i wanna give in
i wanna quit the fight

really .... what can i do this time
everyday i blame my self for what i've done
look what i do in the past seven mounth ... nothing !
even, i can't make myself better
do u think is about " that " ?
maybe for 75 %, right
i wanna run away as far as i can from here ... from everybody arround me
sometimes i feel God angry to me.... but it was wrong !
HE never left me .. but i haven't talk to HIM in deep

really i wanna run away as far as i can ....

Sabtu, 05 Juni 2010

Feeling guilty

06 may 2010

maybe i made wrong decision in the past
maybe i'm not doing anything to fix that
maybe i feel hopeless to start a new one
God,
something happen yesterday and it make me sad
from the bottom of my heart i cry ....
i don't know what i must to do ...
plis,, let this feeling end

Kamis, 04 Maret 2010

Where are you ?

hai ....
u know ... i really miss you ..
for almost six mounth we're never talk ... like ussualy i still busy with myself
eventhough there's nothing to do .. xixiixi
where u hiding ? i've been looking 4 u everywhere .. but still can't find it..
did somebody kidnape u ? maybe ... they want to know how close we are ..
there's alot of words that i want to write .. but it can make me regret for what i've done .. n i don't want happen to me ...
my english worse hah ? he2x ... of course lah ... wong cuama tau kata-kata ini doangan ...
please .... show me where u are ? i really want to talk to you ..
i miss you ... i really miss you ...


cold, silent, rainy outside ... begining of march '10 ...

Sabtu, 02 Januari 2010

DOUBLE RIO



Pernah gak ketemu dengan orang yang sama dalam satu hari tapi dengan kondisi dan situasi yang jauh beda ? bisa jadi sering terjadi. Tapi buat aku gak mungkin bertemu dengan Rio yang selama ini kukenal tiba – tiba berubah 360 derajat dalam satu hari. Gak mungkin Rio yang sukanya bawa mobil mewah ke sekolah, selalu tampil keren dengan gayanya yang borjuis tiba – tiba aja jadi kondektur bus. Bisa hancur reputasinya sebagai artis sinetron pendatang baru yang sedang naik daun.
“ Lo yakin yang lo liat itu Rio ? “ tanya Viona sobat karibku.
“ Sumpe ! dia di depan mata gue narikin duit ke penumpang “ seruku menegaskan obrolan.
“ Emang banyak sih orang di dunia ini yang sama, bisa jadi cowok yang lo liat itu cuma mirip doang.”
“ Mungkin sih ! tapi kenapa mirip banget ya “ ujarku heran.
Beberapa menit kemudian Rio melintas di depan kami dengan tampang sok coolnya itu. Gak mungkin banget khan cowok sombong itu jadi kondektur. Sikap arogannya membuatku semakin tak yakin kalau cowok yang kulihat di atas bus adalah dia.
***
“ Viona sini buruan !” teriakku histeris pada Viona yang masih asyik ngutak ngatik HP.
“ Apaan sih !”
“ Tuh, lo lihat cowok yang lagi bersihin bus di seberang sana, itu bukannya Rio “
Viona segera mengedarkan pandangan pada sosok tubuh yang kutunjuk dan tersentak kaget. Dalam sekejab ia langsung menarikku turun dan membawaku menaiki bus yang sedang dibersihkan oloh cowok yang mirip Rio itu. Tanpa basa – basi kami berdua langsung duduk di hadapannya dan dengan seksama memperhatikan gerak – geriknya.
“ Maaf mbak, bus ini gak jalan sedang dibersihkan “ sapanya sopan.
Kami berdua masih termangu menatap sosok di hadapan kami.
“ Maaf sekali lagi mbak, bus disebelah sana yang jalan “ tunjuknya pada bus yang tadi kami naiki.
“ Rio, lo lagi nyamar ya ?” tebak Viona tanpa basi – basi.
“ Rio ? maaf mbak Rio siapa ya ?” tanyanya heran.
“ Lo Rio khan artis sinetron itu ?”
“ Ooh .. bukan saya Aldo “
“ Yang bener ?” tanya Viona penasaran.
“ Hm, sebenarnya gak cuma mbak yang nyangka saya Rio, banyak penumpang lain yang suka tanya kaya gitu, tapi saya bukan dia “ terangnya.
“ Kok, lo mirip banget sih !”
“ Masa sih !” jawabnya heran seraya menggaruk – garuk kepalanya.
Aku dan Viona saling berpandangan. Rio dan Aldo bak pinang dibelah dua. Sama – sama putih, tinggi dan ganteng. Letak perbedaannya Aldo jauh lebih ramah ketimbang Rio yang sombong dan arogan itu. Meski Aldo hanya memakai kaos puith, jins belel dan sendal jepit tetap saja kelihatan ganteng tidak beda dengan Rio.
“ Apa mungkin mereka kembar terus terpisah Rio jadi anak orang kaya sedang Aldo anak orang gak punya “ bisik Viona.
“ Idih ! sinetron banget sih lo “ ujarku gusar.
“ Eh, bisa aja Kay!” serunya.
Aku tertawa dalam hati. Jika mereka kembar gak mungkin banget orang tua Rio memisahkan anaknya apalagi mereka keluarga kaya. Gak ada alasan untuk membuang atau memisahkan mereka.
***
Seringnya bertemu dengan Aldo di terminal atau di atas bus membuat kami jadi saling kenal. Tak jarang jika bus sepi penumpang Aldo ngobrol dengan aku dan Viona. Ternyata umur kami sama. Tiap pulang sekolah ia langsung ke terminal untuk bekerja dan baru akan pulang jam tujuh malam. Kadang aku dan Viona sengaja menunggu bus miliknya berangkat agar bisa lebih banyak ngobrol.
Dibalik sikap baik dan ramahnya ternyata Aldo juga pintar. Ia sangat menguasai pelajaran eksak. Langsung saja kami tawari pekerjaan jadi guru privat awalnya ia menolak tapi setelah aku bilang akan membayar jerih payahnya ia pun bersedia. Akhirnya kini seminggu dua kali ia datang kerumahku untuk memberi pelajaran tambahan.
“ Kayla, lo disuruh Pak Imron mendampingi Rio jadi MC acara ultah sekolah “ ujar Yoga ketua Osis kami.
“ Duh, kenapa mesti sama dia sih ! kenapa bukan lo aja ? “ gerutuku karena tahun kemarin kami berdua yang ditunjuk pihak sekolah.
“ Maklumlah selebritis “ goda Yoga seraya tertawa.
Huh, pasti gak enak rasanya berdampingan dengan cowok sombong itu. Gayanya yang sok borju itu membuatku sebal. Gimana bisa aku kerja sama dengan dia ? yang ada malah bikin bete seharian.
“ Kata Pak Imron kita yang jadi MC ultah sekolah “ ujar Rio saat menyambangiku di kelas.
“ Iya “ jawabku singkat.
“ Ini draft acara dari panitia, kita disuruh mempelajarinya.”
“ Iya, nanti aku baca .”
“ Ok, nanti siang kita bahas usai jam sekolah “ putusnya seraya meninggalkanku.
Aku mencibirkan bibirku liat aja gayanya sok bossy gitu. Aku yang udah tahun kedua diberi tugas ini aja santai, kenapa dia yang ribet ? omelku dalam hati.
“ Maklumlah dia khan promosi diri siapa tahu ada sutradara yang nonton khan bisa ditawarin main film “ goda Viona melihat tampang beteku.
“ Pliss deh ! narsis banget tu cowok !” sungutku.
***
Hampir setengah jam Rio membaca draft acara. Sesekali ia memperagakan gayanya bak presenter terkenal. Belum lagi improvisasi yang sedikit dibuat – buat bikin aku tambah sebel melihatnya.
“ Sekarang giliran kamu “ tegurnya membuyarkan lamunanku.
“ Tahun kemarin aku yang ditugasin dan draft acaranya gak jauh beda jadi kayaknya gak perlu latihan “ ujarku menyombongkan diri.
“ Sombong banget kamu !” tegurnya sinis.
Aku tertawa kecil melihat tampangnya yang bete mendengar jawabanku.
“ Rio, kamu kembar ya ?” tanyaku penasaran karena selama setengah jam bersamanya tak kutemukan sedikitpun perbedaan pada dirinya dan Aldo.
“ Kok nanyanya gitu ?” tanyanya heran.
“ Enggak, aku ketemu orang yang mirip banget sama kamu tapi sifat kalian jauh berbeda .”
“ Mirip doang kali !”
“ Pastilah ! gak mungkin Aldo yang kukenal itu kembaran kamu secara dia cowok paling baik yang pernah kukenal.”
“ Aldo itu pacar kamu ?”
“ Bukan, kami bersahabat tapi untung deh dia gak punya sifat kaya kamu “ putusku seraya membersekan lembaran draft acara.
Selama tiga hari aku dan Rio latihan bareng memang banyak sifat dia yang bikin orang lain tidak suka. Egois, gampang marah dan sok bossy. Tak jarang ia memperlakukanku seperti asistennya. Jika bukan karena tugas sekolah aku tidak mau bekerja sama dengannya.
Ultah sekolah berlangsung dengan sukses. Aku sempat takjub dengan cara Rio membawakan acara. Ia seperti seorang presenter handal yang sering kulihat di Tv. Suasana jadi tambah meriah dengan gurauan dan candanya hingga tanpa sadar akupun terbawa larut dalam suasana ceria itu . Aku heran kenapa gayanya itu tak diperlihatkan saat kami latihan.
Banyak teman – temanku bilang kami berdua cocok jadi partner. Pak Imron malah sudah meminta untuk acara ultah tahun depan kami lagi yang dipercaya untuk membawakan acara. Ternyata dibalik sikap arogan dan sombongnya Rio mempunyai talenta sebagai entertainer.
***
Sudah hampir seminggu Aldo tidak kelihatan di terminal. Apa dia sedang sakit ? aku dan Viona tidak tahu harus mencarinya kemana karena selama ini ia selalu merahasiakan tempat tinggalnya. Selagi kami berdua bingung Rio datang dan menarik tangaku.
“ Ada apa ?” tanyaku heran.
“ Aldo kecelakaan !”
“ Aldo ? Aldo siapa ?”
“ Aldo teman kamu yang jadi kondektur di terminal “
“ Ha ? Viona …. ! “ teriakku histeris memanggil namanya.
Ruang serba putih dan seorang dokter yang sedang memeriksa denyut nadi Aldo terpampang di hadapan kami. Tampak kaki Aldo dibalut perban begitu juga pelipisnya. Ia kaget melihat kedatangan kami.
“ Aduh Aldo kenapa jadi gini ? “ teriak Viona histeris sambil memegang tangan Aldo. Ia langsung meringis kesakitan.
Seraya menahan sakit Aldo lalu menjelaskan kalau ia terjatuh dari bus saat akan turun. Kakinya terbentur aspal jalan begitu juga dahinya. Ia sempat pingsan dua hari karena pendarahan hebat. Tapi untunglah semua itu sudah terlewati sekarang tinggal proses penyembuhan.
“ Kok kalian tahu aku disini “ tanyanya heran.
“ Rio yang kasih tahu kami “
Aku seperti tersadar akan sesuatu. Segera kubalikkan tubuh dan menatap Rio yang sedang diam bak patung.
“ Apa kalian berdua … ?” tanyaku ragu.
Rio mengangguk pelan. Aku dan Viona menatap tak percaya akan anggukan Rio.
“ Iya kami saudara kembar “ ujar Aldo pelan.
Lalu mengalirlah cerita dari bibir Rio kalau selama ini hubungannya dengan Aldo tidak akur seperti saudara kembar pada umumnya. Ia kesal melihat sikap orang tuanya yang selalu menilai Aldo lebih pintar dalam segala hal. Padahal ia sudah membuktikan dengan menjadi model dan pemain sinetron bisa membuat orang tuanya bangga. Tapi mereka tetap ingin Rio harus pintar di bidang akademis.
Sikap orang tuanya itulah yang membuat Rio membenci Aldo. Sikap baik Aldo yang memilih tidak memihak siapapun tidak digubrisnya. Ia berubah menjadi orang yang gampang marah dan egois. Sedang Aldo karena tidak tahan dengan sikap Rio memilih untuk menghabiskan waktu di luar rumah dengan menjadi kondektur bus.
Kecelakaan yang menimpa Aldo membuat Rio dan orang tuanya sadar jika selama ini mereka telah bersikap salah. Setiap anak memang ditakdirkan mempunyai bakat dan kelebihan yang berbeda meski mereka terlahir kembar. Hubungan mereka pun kembali baik. Tindakan Rio memberitahu kami soal kecelakaan yang menimpa Aldo merupakan salah satu permintaan maaf atas prilakunya selama ini . Ia berharap kedatangan kami bisa membuatnya bahagia.
“ Jadi lo pilih siapa ? gue sama Aldo ya “ bisik Viona.
“ Apaan sih lo !” bisikku gusar takut terdengar oleh mereka berdua.
“ Apa kita suit aja !” bisiknya lagi tak perduli dengan omelanku.
“ Vionaaa……. !” jeritku kesal sambil mencubit pinggangnya.

***
Dimuat di Majalah Teen november 2009

Selasa, 29 September 2009

Girl Next Door

Sudah tiga hari ini aku mendengar suara aneh yang keluar dari kamar atas rumah tetangga sebelahku. Jika malam hari suara isakan perempuan sering terdengar lirih. Berulang kali kuyakinkan diri jika itu cuma ilusiku semata tapi tadi malam suara itu terdengar lagi dan kali ini lebih keras. Hampir dini hari aku baru bisa memejamkan mata karena suara itu tidak juga hilang.
Setelah dua tahun rumah itu kosong kini sudah hampir sebulan ada penghuni baru yang menempatinya. Sejak pindah tak ada satupun dari mereka memperkenalkan diri pada lingkungan sekitar. Pintu rumah selalu tertutup seakan rumah itu tak berpenghuni. Rumput liar yang tumbuh dihalaman dibiarkan tumbuh subur hingga berantakan. Jika malam hari rumah itu jadi tambah seram karena mereka tidak menyalakan lampu teras.
“ Sebenarnya tetangga kita itu siapa sih, ma ?” tanyaku saat sedang sedang sarapan.
“ Mama juga gak tahu, mereka gak pernah keluar rumah memang ada apa ?” tanya mama balik.
“ Gak ada apa – apa. “
Rumah lantai dua bercat abu – abu itu tampak sepi. Aku sengaja berdiri di balkon kamarku untuk melihat siapa yang tinggal disana. Hampir satu jam menunggu tak satupun orang yang keluar. Baru saja aku akan bangkit untuk masuk tiba – tiba saja pintu rumah itu terbuka lalu muncul seorang gadis yang tampaknya seumuran denganku keluar dengan memakai baju sweater tebal. Ia membuang sesuatu ke tempat sampah lalu buru – buru masuk kembali dan mengunci pintu. Apa dia yang menangis semalam ?
Malam ini kuberanikan diri untuk duduk lagi di balkon berharap gadis yang tadi siang keluar lagi. Aku akan mencoba untuk menyapanya. Siapa tahu dia bisa jadi teman baruku tapi sampai jam sepuluh malam dan aku sudah kedinginan ia tidak juga muncul. Akhirnya kuputuskan untuk masuk dan tidur.
***
Sudah hampir dua jam hujan deras turun dari langit disertai petir yang menyambar seperti sengatan listrik. Orang tuaku sedang pergi ke Bandung. Kak Rio belum pulang kerja dan mbak Inah sejak tadi sore sudah masuk kamar. Jam di dinding menunjukkan hampir jam dua belas malam. Baru saja aku akan mematikan lampu kamar ketika Brakk …. Suara keras tiba – tiba terdengar dan jendela kamarku terbuka lebar. Aku kaget dan mundur ke belakang beberapa langkah. Angin yang masuk berhembus kencang membuat bulu kudukku merinding. Untuk sesaat aku hanya terpaku bak patung lalu dengan perasaan takut aku mencoba menarik daun jendela yang terbuka dan detik itulah aku melihat sesosok tubuh berdiri di halaman sebelah rumah. Sosok itu tinggi besar memakai jubah besar dan kini sedang menatapku dengan pandangan menyeramkan. Reflek ku banting jendela dan menjerit lalu berlari turun ke kamar mbak Inah yang terletak di lantai bawah. Ia kaget melihat tampangku yang pucat karena ketakutan. Setelah minum segelas air putih aku baru bisa sedikit bernafas. Ya, Tuhan mahluk apakah yang barusan kulihat ?.
“ Ada hantunya kali rumah disebelah lo, Sha !” bisik Tika usai aku bercerita tentang kejadian semalam.
“ Tapi kalo ada hantunya kok cewek yang tinggal disitu gak takut ya “ gumamku.
“ Dia belum dikasih lihat kali “
“ Jangan – jangan suara tangis yang gue dengar tempo hari juga suara hantu hii sereem “ ujarku bergidik.
Siang yang panas saat aku pulang sekolah dan melihat gadis tetanggaku berada di pintu pagar. Aku bergegas menghampirinya.
“ Hai, aku Shasi ! rumahku disebelah rumah kamu “ sapaku ramah.
Ia menatapku aneh lalu buru – buru menundukkan kepalanya.
“ Kamu jarang kelihatan.” Lanjutku.
“ Aku Maya, maaf aku harus masuk !” ujarnya singkat lalu pergi meninggalkanku dan buru – buru menguci pintu dari dalam.
“ Orang yang aneh !” gumamku.
Aku tidak tahu kenapa aku begitu penasaran dengan keluarga yang tinggal di sebelah. Melihat wajah Maya yang aneh tadi aku merasa seperti ada yang disembunyikannya. Aku ingin sekali berkenalan dengannya karena sepertinya ia tidak mempunyai teman.
“ Hai Maya !” teriakku dari balkon saat kulihat jendela kamar atas rumahnya terbuka dan melihatnya sedang menyapu. Ia tersenyum tipis lalu buru – buru menutup tirai jendela. Sebenarnya ada apa sih dengannya ? apa wajahku mirip hantu hingga ia tidak mau membalas sapaanku.
Karena penasaran yang begitu kuat aku memberanikan diri mendatangi rumahnya dengan membawa sekotak kue. Hingga ketukan ketiga tak satupun ada yang keluar. Baru saja aku akan mengetuk lagi pintu sudah terbuka dan muncullah Maya yang kaget melihat kedatanganku.
“ Aku boleh masuk ?” tanyaku.
Dia terdiam lama.
“ Kalo gak boleh gak apa – apa , aku cuma mau mengantarkan ini “ ujarku seraya memberikan sekotak kue bolu.
“ Masuklah !” jawabnya pelan seraya membukakan pintu dan menyuruhku duduk di ruang tamu.
Rumah itu tampak sepi dan tak terlalu banyak barang. Tak berapa lama Maya datang membawa segelas air putih dan beberapa potong kue bolu yang tadi kubawa.
“ Kok sepi banget, orang tua kamu kemana ?” tanyaku
“ Mereka sedang pergi ?” jawabnya singkat.
Sebenarnya aku ingin sekali bertanya siapa yang suka menangis jika malam hari. Atau apakah ia mempunyai saudara sesuai dengan sosok seram yang tempo hari kulihat. Tapi sepertinya ia tidak nyaman dengan kehadiranku itu terlihat karena tak sepatah katapun keluar dari bibirnya sejak aku datang. Mungkin sosok yang tempo hari kulihat dan tangisan yang kudengar cuma ilusiku belaka atau benar – benar hantu dan hanya aku yang diganggu.
***
bersambung

Majalah Kawanku 2009